Sudah sering mendengar istilah Design Sprint sebelumnya? Jika ya, kemungkinan besar, kamu adalah orang yang bekerja untuk sebuah perusahaan startup yang bergerak di bidang e-commerce atau kamu sendiri adalah CEO startup yang sukses.

Istilah ini dipakai untuk menamai sebuah metode bisnis, yang bisa mengarahkan kamu pada kesuksesan bisnis kamu.

What is a Design Sprint?

Design Sprint adalah lima langkah kerja yang unik untuk memvalidasi dan memecahkan tantangan besar melalui prototyping dan menguji ide berdasarkan pemahaman akan design thinking. Metode ini dibuat oleh Jake Knapp dalam bukunya "How To Solve Big Problem and Test New Ideas in Just Five Days" dan kini banyak sekali dipakai oleh berbagai perusahaan di seluruh dunia.

"The 'greates hits' of business strategy, innovation, behavioural science, and more packaged into a step-by-step process that any team can use."

Kerangka kerja Design Sprint diberlakukan dalam proses lima hari. Dalam proses tersebut, setiap anggota dalam tim akan salign berdiskusi sehingga menghasilkan gagasan masing-masing yang akan digunakan untuk eksekusi proyek bisnisnya. Design Sprint akan membantu kamu untuk :

  1. Understand (Pahami)
    Memahami masalah atau tantangan dengan memetakannya dan memilih hal yang penting untuk fokus.
  2. Diverge (Kembangkan)
    Membuat sketsa solusi bersaing di atas kertas. Pada tahap ini harus ditemukan kunci strategi dari masalah agar fungsi problem solving terlaksana. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah, usahakan membatasi luas masalahnya, jangan melebar kemana-kemana. Coba untuk fokus pada hal yang telah dipahami pada tahap pertama.
  3. Decide (Putuskan)
    Membuat keputusan dan mengubah ide untuk di uji. Seluruh tim akan menentukan ide-ide terbaik yang nantinya akan diimplementasikan ke dalam proyek bisnis. Hampir seluruh anggota tim menyampaikan gagasan yang unik atau berbeda pada tahap ini. Gafasan yang terkumpul akan diputuskan berdasarkan voting. Lalu hitung suara terbanyak dan itulah ide atau gagasan yang akan dieksekusi di tahap-tahap berikutnya sampai proyek berhasil.
  4. Prototype.
    Membuat prototype yang realistis bersama-sama sebagai tester. Developer akan mendiskusikannya lalu membuat rancangan nyata dari suatu produk yang nantinya bisa diadakan demo pada user dalam tahap berikutnya. Tahap ini bisa dibilang tahap yang sulit, kamu harus menekan biaya karena produk yang dibuat bukanlah hasil akhir, hanya sebagai gambaran dari produk. Namun, tim harus tetap membuatnya dengan sebaik mungkin dan teliti hingga tanggapan user di tahap akhir menjadi tanggapan positif.
  5. Validate (Validasi)
    Pada tahap terkahir ini, prototype yang sudah tim buat akan di uji dan dinilai oleh para user. Pengujian sangat penting dilakukan oleh user yang tepat, maksudnya, user adalah seorang yang memiliki keahlian cukup di bidang terkait produk yang akan dirilis. Penilaian tidak boleh dilakukan oleh developer dari perusahaan kamu sendiri karena penilaiannya akan bersifat subjektif. Penguji yang baik akan mewakili perasaan atau kebutuhan dan keinginan semua user lainnya.

Kunci dari Design Sprint

  • The user is king.
    Keseluruhan proses Design Sprint berpusat pada user. Proses ini membangun produk dan layanan berdasarkan pemahaman yang kuat dari pengguna sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pengguna. Umpan balik dan dan validasi dari user akan menjadi final dari Design Sprint.
  • Mempertimbangkan semua perspektif.
    Design Sprint mengumpulkan semua orang penting dalam satu tempat untuk menyampaikan semua gagasan dalam hal memecahkan semua tantangan yang ada.
  • Efisien dan efektif.
    Design Sprint memotong segala hal yang tidak efisien dan efektif dalam sebuah diskusi. Design Sprint dalam lima hari memaksa kamu dan tim untuk fokus dan mengupayakan sesuatu yang realistis dalam akhir minggu.
  • Belajar cepat, gagal cepat.
    Design Sprint membantu kamu untuk mendapatkan visi dan tujuan yang jelas diawal proses. Hal ini memaksamu untuk membuat keputusan penting dan menyelesaikan masalah dengan cepat. Ini berarti, kamu dan tim dapat menghemat waktu, biaya, design, teknik dan pengembangan. Bonusnya? Kamu bisa membawa produkmu dengan cepat untuk bersaing di pasar karena kamu dan telah fokus pada sesuatu yang benar.

Kesimpulan

Metode ini memang sangat cocok dilakukan oleh para pebisnis yang baru saja memulai dan mengembangkan perusahaannya, semacam startup. Hal tersebut dikarenakan jumlah SDM yang cenderung sedikit dan cara berpikir atau mindset yang cenderung terbuka pada perusahaan rintisan. Dengan menjadi fokus pada titik permasalahan atau tantangan, kamu dan tim bisa mengerjakannya dengan cepat, termasuk juga risiko kegagalan yang cepat agar dapat langsung berpindah fokus ke titik lainnya.

Bagikan: